5 Keutamaan I’tikaf di Bulan Ramadhan, Menggapai Lailatul Qadar

Admin 0 Komentar

I'tikaf sebagai salah satu amalan sunah di bulan suci Ramadhan, memiliki banyak sekali keutamaan. Lalu apa saja keutamaan i'tikaf tersebut?

INDIFFS.COM – I’tikaf sebagai salah satu amalan sunah di bulan suci Ramadhan, memiliki banyak sekali keutamaan. Apalagi dengan khusyuk untuk beribadah dan berdoa kepada Allah SWT tanpa gangguan apapun. Tentunya, bisa membuat umat Islam semakin dekat dengan Allah SWT.

I’tikaf adalah berdiam di dalam masjid dengan tata cara tertentu dan disertai niat.  Nabi SAW melakukan i’tikaf, khususnya di bulan Ramadhan. Bahkan beliau SAW menganjurkan para sahabat untuk ikut beri’tikaf bersama Rasulullah SAW di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.

مَنْ كَانَ اعْتَكَفَ مَعِي فَلْيَعْتَكِفِ الْعَشْرَ الأَْوَاخِرَ

“Siapa yang ingin beri’tikaf denganku, maka lakukanlah pada sepuluh terakhir.” (HR. Bukhari).

Keutamaan I’tikaf di Bulan Ramadhan

Menjadi salah satu ibadah yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah saw., berikut adalah beberapa keutamaan i’tikaf di bulan Ramadhan:

1. Terbiasa Shalat Fardhu Secara Kontinyu dan Berjamaah

Dengan beri’tikaf orang akan dengan mudah dapat mendirikan shalat fardhu secara kontinyu dan berjamaah karena dia telah berada di dalam masjid. Berarti dia berpeluang mendapatkan pahala shalat berjamaah, dua puluh tujuh lipat dibandingkan dengan shalat sendirian.

2. Menjadi Ladang Pahala

Sebab diamnya di masjid dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah. Saat terjaga, ia mengisi waktunya dengan shalat, tilawah, dzikir, berdoa, bermunajat, tadabbur, tafakkur atau mengkaji ilmu. Bahkan dalam kondisi tidur pun, orang yang beritikaf mendapatkan pahala yang besarnya tidak bisa didapatkan oleh orang yang tidur di rumahnya. Sebab tidurnya itu termasuk rangkaian itikaf.

3. Menggapai Malam Lailatul Qadar

Ibadah i’tikaf memiliki tujuan yang mulia yaitu untuk menggapai malam lailatul qadar yang punya keutamaan ibadah yang dilakukan lebih baik daripada 1000 bulan. Ada hadits yang disebutkan oleh Ibnu Hajar Al Asqolani dalam kitab beliau Bulughul Marom, yaitu hadits no. 699 tentang permasalahan i’tikaf.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ:- أَنَّ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَعْتَكِفُ اَلْعَشْرَ اَلْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ, حَتَّى تَوَفَّاهُ اَللَّهُ, ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa beritikaf di sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan hingga beliau di wafatkan oleh Allah. Lalu istri-istri beliau beritikaf setelah beliau wafat. Muttafaqun ‘alaih. (HR. Bukhari dan Muslim)

4. Ajang untuk Mengevaluasi Diri

Evaluasi diri adalah hal yang paling sulit dilakukan oleh manusia walaupun itu terhadap dirinya sendiri. Akan sangat mudah kita mengevaluasi diri orang lain namun akan sulit jika kita mengevaluasi diri kita sendiri. Evaluasi diri seperti proses atau pegangan yang akan membawakan kita mencapai hikmah dan perbaikan diri. Tanpa evaluasi diri tentu saja manusia akan terjebak dan tersesat karena terbawa hanya oleh diri atau hawa nafsu pribadinya.

5. Menjaga Shaum dari Dosa Kecil

I’tikaf juga ikut menjaga shaum seseorang dari perbuatan-perbuatan dosa walau kecil sekalipun, seperti mengumpat, berdebat, berkata kotor, dan sebagainya. I’tikaf juga merupakan sarana untuk menjaga pandangan mata dari melihat-lihat hal yang diharamkan dalam Islam, terlebih seperti saat ini, saat aurat (perempuan) dipamerkan di mana-mana secara vulgar.

Semoga kita bisa melaksanakan ibadah itikaf bukan hanya selama Ramadhan, melainkan di waktu-waktu lainnya untuk mengisi jiwa dan ruhani kita dengan metode berdiam diri di masjid serta memfokuskan diri untuk beribadah kepada Allah SWT.

Semoga kita senantiasa istiqomah untuk melaksanakan perintah Allah walaupun ramadhan telah berlalu, tapi istiqomah yang akan selalu kita jaga.

Tanggapan

Belum ada

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Konten Terkait

Konten Terbaru