Amir Syarifuddin Harahap, Mati Diujung Bedil Tentara Indonesia

Siti Nurul Azizah 0 Komentar

Dibalik Sumpah Pemuda 1928 ada beberapa tokoh penting, salah satunya Amir Syarifuddin Harahap, namun mati di ujung bedil tentara RI.

INDIFFS.COM – Memiliki peranan penting dalam momen sumpah pemuda, Amir Syarifuddin Harahap menjadi bendahara Kongres Pemuda II pada 27-28 Oktober 1928. Walaupun hanya memiliki tugas mengatur keuangan, keberadaannya sangat dipandang kala pertemuan itu.

Bahkan, peran Amir cukup menentukan Kongres Pemuda II, meski hanya menyetujui rumusan itu. Kala Muhammad Yamin merancang rumusan Sumpah Pemuda, ia terlebih dahulu meminta persetujuan Amir serta Ketua Kongres, Soegondo Djojopuspito.

Hanya saja ia memilih simpang kiri jalan, dalam petualangan politik hingga pada akhirnya membawa Amir Syarifuddin Harahap ke lubang penderitaan. Pasalnya, pada tahun 1948 ia di eksekusi mati oleh pemerintah karena terlibat dalam pemberontakan komunis.

Biografi Amir Syarifuddin Harahap

Amir Sjarifoeddin Harahap atau dalam ejaan baru Amir Syarifuddin Harahap merupakan seorang politikus sosialis dan salah satu pimpinan terawal Republik Indonesia. Ia lahir di Medan, Sumatera Utara, pada 27 April 1907. Ia juga menjabat sebagai Perdana Menteri ketika Revolusi Nasional Indonesia sedang berlanjut.

Berasal dari Anggota keluarga Batak Muslim, dan ia menjadi pemimpin sayap kiri terdepan pada masa Revolusi. Dalam catatan sejarah, ia disebut sebagai muslim taat namun menjadi politikus licin di kemudian hari.

Pendidikan

Ia merupakan seorang yang terpelajar berkat pendidikan Belanda. Ia memulainya di Europeesch Lagere School (ELS) atau sekolah berbahasa Belanda di Medan yang diperuntukkan golongan keluarga terpandang pada 1914-1921.

Berbekal intelektualitas Amir kemudian melanjutkan pendidikan ke Leiden, Belanda. Dia mendapat tawaran saudaranya, Todung Sutan Gunung (TSG) Mulia, yang baru saja diangkat sebagai anggota Volksraad.

Pria yang gemar menghisap tembakau dengan pipa cangklong itu menjadi anggota pengurus perhimpunan siswa Gymnasium di Harleem dan aktif terlibat dalam diskusi-diskusi kelompok Kristen. Satu di antaranya CSV-op Java yang menjadi cikal bakal Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI).

Namun ia tak bisa menamatkan pendidikan di Leiden karena masalah keluarga. Hingga pada 1927 ia kembali dan melanjutkan studi dan lulus dari Sekolah Tinggi Hukum di Batavia (Jakarta).

Pindah Agama

Pada usia 24, tepatnya tahun 1931, Ia memutuskan untuk pindah keyakinan atau agama. Proses itu terjadi seiring ketertarikan Amir dengan gerakan kiri.

Meski berpindah keyakinan, Ia tetap menjadi seorang yang taat. Menurutnya, komunisme dengan ajaran Kristen tak perlu dipertentangkan karena keduanya membicarakan kemanusiaan.

Ia berujar tak ada yang mesti dipertentangkan antara komunisme dengan suatu agama tertentu. Sebab, pemahaman komunisme pada kala itu bukan merupakan antitesis terhadap agama sebagaimana yang berkembang belakangan ini.

Peran Amir

Amir memiliki peran pada masa pergerakan nasional yang terbilang penting. Hal ini terjadi pada saat kongres Pemuda II yang menelurkan ikrar Sumpah Pemuda tahun 1928 menjadi titik tolak Amir dalam perjuangan meraih kemerdekaan.

Ia juga turut berperan serta dalam agenda tersebut mewakili Jong Sumatra dan ikut membidani kelahiran Jong Batak, pada saat itu Amir menjadi Bendahara.

Pada Mei 1937, Amir bersama rekannya seperti Adnan Kapau Gani, Mohammad Yamin, Sanusi Pane, dan lainnya membentuk Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo), sebuah kelompok berpaham kiri yang antifasis.

Pada tahun 1945 tepatnya tanggal 2 September, ia diberikan kepercayaan oleh Soekarno untuk menjadi Menteri Penerangan hingga 12 Maret 1946 di Kabinet Presidensial. Semasa menjabat Perdana Menteri, Amir di sibuk-kan dengan pelbagai polemik.

Satu di antaranya terkait dengan ambisi Belanda yang masih ingin kembali menguasai Indonesia. Peristiwa penting ketika itu adalah Perjanjian Renville pada Januari 1948 yang menjadi latar belakang kejatuhan Amir.

Akhir Hayat

Keterlibatannya dalam Partai Komunis Indonesia (PKI), Amir menjadi salah satu sasaran pasukan tentara untuk menangkapnya. Terlebih kala itu, kelompok Amir hanya dapat bertahan sampai 29 November 1948.

Mereka sempat mengembara mengitari Gunung Wilis dan Gunung Lawu. Adapun Amir sudah susah payah, kurus, dan pincang. Ia menderita disentri.

Singkatnya pada saat tiba di Yogyakarta, Amir, Soeripno, dan Hardjono berhasil ditahan di penjara Benteng lalu dibawa ke Solo. Awal mula sebelum amir ditembak mati, seorang letnan tentara menerangkan adanya surat perintah Gubernur Militer Gatot Subroto mengenai eksekusi mati bagi kawanan amir yang terlibat PKI tersebut.

Apakah saudara sudah mengikhlaskan saya dan kawan-kawan saya?” tanya Amir.

Saya tinggal tunduk perintah,” balas letnan.

Apakah saudara sudah memikirkan yang lebih jernih?” ujar Amir lagi.

Tidak usah banyak bicara,” kata letnan.

Saya tidak menyalahkan saudara, tetapi dengan ini negara yang rugi,” timpal Djokosudjono.

Letnan memerintahkan anak buahnya dalam regu tembak untuk mulai mengisi bedil.

Amir lantas menghampiri sang letnan. Sambil menepuk badan letnan ia berkata, “beri kami waktu untuk bernyanyi sebentar“. Letnan memenuhi permintaan tersebut. Sebelum bernyanyi, mereka menulis surat atas usul yang dilontarkan kali pertama oleh Suripno.

Kemudian, Amir dan kawan-kawannya mengumandangkan lagu Indonesia Raya dan Internasional, lagu kaum buruh sedunia.

Setelah selesai bernyanyi, Amir berseru: “Bersatulah kaum buruh seluruh dunia! Aku mati untukmu!“. Kemudian, mereka ditembak satu per satu. Dimulai dari Amir.

Demikian biografi Amir Syarifuddin Harahap, salah satu tokoh yang memiliki peranan penting terutama dalam sumpah pemuda. Namun, akhir kala itu ia mati diujung bedil tentara Republik Indonesia karena keterlibatannya dalam komunis.

Tanggapan

Belum ada

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Konten Terkait

Konten Terbaru