Begini Urutan yang Benar Melakukan Ibadah Haji di Tanah Suci

Siti Nurul Azizah 0 Komentar

Bagi jemaah haji yang hendak pergi ibadah ke tanah suci, ada baiknya mengetahui urutan ibadah haji yang benar agar mendapatkan kesunahannya.

INDIFFS.COM – Ketika pergi ke tanah suci, tentunya ada tour guide yang akan memandu untuk mengarahkan rangkaian ibadah haji. Namun, ada baiknya seseorang mengetahui tatacara serta urutan dalam ibadah haji. Pasalnya mengetahui tatacara haji merupakan salah satu syarat ibadah haji.

Urutan Ibadah Haji

Ada beberapa rangkaian tatacara ibadah haji yang harus dilakukan oleh seseorang yang pergi ke Baitullah.

1. Ihram

Dalam website Kementerian Agama disebutkan bahwa ihram merupakan niat mulai menjalankan haji atau umrah. Kegiatan ihram ini merupakan suatu hal wajib yang harus dikerjakan bagi jemaah haji, terlebih ihram merupakan syarat sahnya haji.

Biasanya para jemaah berniat ihram pada tanggal 08 dzulhijjah dengan mengambil miqat di tempat tinggalnya seperti di hotel Mekkah. Adapun lafal niat yang bisa dibacakan ialah sebagai berikut:

نَوَيْتُ الْحَجَّ وَأَحْرَمْتُ بِهِ لِلهِ تَعَالَى لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ بحَجًَةِ

Artinya: “Aku niat melaksanakan haji dan berihram karena Allah SWT. Aku sambut panggilan-Mu, ya Allah untuk berhaji.”

Dalam ihram sendiri terdapat yang namanya pakaian ihram, yang dipakai selagi menjalankan ibadah haji dan disunahkan berwarna putih. Bagi jemaah laki-laki ialah 2 lembar kain yang tidak berjahit, dipakai untuk bagian bawah menutup aurat, dan kain satunya lagi diselendangkan.

Sedangkan bagi pakaian wanita ihram ialah menutup semua badannya kecuali muka dan telapak tangan (seperti pakaian ketika sholat). Biasanya kebanyakan agen travel telah menyediakan pakaian ihram.

2. Wukuf

Wukuf bisa diartikan sebagai berhentinya aktivitas jemaah yang melaksanakan ibadah haji untuk berdiam diri di padang Arafah. Ditempat ini para jemaah haji berdoa kepada Allah serta meminta ampun kepada-Nya.

Selain itu, disunnahkan untuk memperbanyak dzikir, sholat jama taqdim qashar dan menghadap kiblat. Adapun keberadaannya mulai dari tanggal 9 dzulhijjah ketika tergelincir nya matahari hingga terbitnya fajar pada 10 dzulhijjah.

3. Thawaf Ifadhah

Tawaf ifadah merupakan kegiatan mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali, dengan posisi Ka’bah berada di sebelah kiri. Thawaf ini dilakukan mulai dari Hajar Aswad dan nantinya berakhir pula di Hajar Aswad.

Adapun pelaksanaannya mulai dari tengah malam, tepatnya tanggal 10 dzulhijjah hingga kapan saja. Akan tetapi, sebaiknya dilakukan pada hari-hari tasyrik (11, 12, 13 dzulhijjah).

4. Sa’i

Secara umum sa’i ini merupakan lari-lari kecil antara dua tempat yaitu Bukit Shafa dan Bukit Marwa, ini dilaksanakan setelah Thawaf. Adapun aktivitas sa’i ini dilakukan sebanyak 7 kali, yang mana perhitungannya dari shafa ke marwa dihitung satu kali, begitu pula sebaliknya.

5. Berada di Muzdalifah

Selanjutnya ialah mabit atau bermalam di muzdalifah, ini wajib dilakukan bagi orang yang sehat. Menginap di muzdalifah ini dilakukan setelah waktu maghrib sampai bulan 10 dzulhijjah yang bertepatan dengan terbitnya fajar.

Di tempat ini juga jemaah mengambil batu sebesar kelereng (kerikil) sebanyak 49 atau 70 butir. Yang mana nantinya batu-batu tersebut akan digunakan untuk melempar jumroh.

6. Melempar Jumroh

Serangkaian urutan ibadah haji selanjutnya ialah melempar jumroh. Kegiatan ini dilakukan dengan melempar batu-batu kecil ke sebuah pilar elips pipih yang ada di Mina. Melempar batunya ialah sebanyak 7 kali dan tidak boleh 7 batu sekaligus, melainkan harus satu-satu. Adapun melempar jumroh ini dilakukan pada 10 Dzulhijjah hingga hari tasyrik yakni 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.

7. Mencukur Rambut

Tatacara ibadah haji selanjutnya setelah melempar jumroh ialah dianjurkan untuk mencukur rambut. Adapun ketentuan minimal ialah 3 helai rambut, ataupun boleh jika mau digundul.

8. Melontar 3 Jumrah

Melempar jumrah dilakukan pada 10 Zulhijah hingga hari tasyrik yakni 11, 12, dan 13 Zulhijah di Mina. Di masing-masing hari tersebut, jemaah wajib melontar Jumroh Ula, Jumrah Wustha, dan Jumrah Aqabah dengan tujuh batu kerikil.

Adapun pelemparan batunya yang sudah di kumpulkan pada saat mabit di muzdalifah. Batunya pun harus kerikil, selain itu tidak akan sah. Apabila ada jemaah haji yang sedang sakit kala itu, maka bole diwakilkan, dengan syarat masih pada waktunya.

9. Bermalam di Mina

Jemaah haji Mabit di Mina ada yang hingga tanggal 12 Dzulhijjah dinamakan Nafar Awal, dan ada yang hingga tanggal 13 Dzulhijjah dinamakan Nafar Tsani.

Nafar awal ini berarti hanya menginap selama dua malam saja, sedangkan Nafar Tsani ini bermalam selama tiga malam. Nabi muhammad dahulu melakukan mafar tsani atau menginap selama tiga malam. Namun, bagi para jemaah dan rombongan sebaiknya memilih waktu yang tepat.

10.Thawaf Wada’

Thawaf wada’ merupakan thawaf perpisahan jema’ah haji yang sudah melaksanakan rangkaian ibadah haji di tanah suci, ketika semua jemaah harus bersiap-siap meninggalkan 2 kota suci ini. Setelah itu, orang-orang tidak diperkenankan kembali ke hotel untuk menginap.

Terkecuali menunggu bus, mengambil barang-barangnya dan pergi ke toilet. Jika mau ziarah ke madinah boleh melakukan ibadah ini, asalkan tidak kembali ke makkah.

Adapun bagi orang yang sedang sakit atau haid, tidak wajib untuk melakukannya. Cukup memanjatkan doa dipintu masjidil haram.

Demikianlah rangkaian dan urutan ibadah haji yang benar. Semoga bermanfaat dan bisa membantu Jemaah dalam proses pelaksanaan ibadah haji.

Tanggapan

Belum ada

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Konten Terkait

Konten Terbaru