Belajar dari Sri Lanka, Partai Gelora Minta Pemerintah Waspada

Hani Hnsa 0 Komentar

Partai Gelombang Rakyat (Gelora) meminta kepada pemerintah lebih cermat mengatur keuangan agar tidak terancam bangkrut seperti Sri Lanka.

IndiffsPartai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia meminta kepada pemerintah lebih cermat mengatur keuangan negara agar tidak terancam bangkrut seperti Sri Lanka. Sebab sejumlah negara di dunia juga terancam bangkrut, seperti laos, Myanmar, bahkan Argentina.

Indonesia Harus Belajar Dari Sri Lanka Soal Pengawasan Utang dan Proyek Infrastruktur

Gelora

Pengawasan Utang dan Proyek Infrastruktur – Akurat.co

Menurut Partai Gelombang Rakyat (Gelora), ketidak mampuan pemerintah Sri Lanka dalam mengatasi krisis ekonomi yang muncul akibat pandemi yang melanda dunia secara global dan kondisi dunia diperburuk dampak dari perang Rusia-Ukraina.

Hal ini tentunya menjadi pelajaran penting bagi negara-negara lain agar berhati-hati dalam membuat kebijakan anggaran negara. Menciptakan kemandirian, terutama kemandirian dalam pangan dan energi.

“Indonesia dan dunia harus belajar dari apa yang terjadi di Sri Lanka. Saat ini hutang Indonesia sudah lebih dari 7000 triliun per Februari 2022” Ucap Achmad.

Pria yang akrab dipanggil MadNur ini menyebut angka tersebut sekitar lebih dari 40% PDB Indonesia. Melihat angka tersebut maka penggalian hutang berikutnya akan mengancam Indonesia terperosok kepada krisis seperti yang terjadi di Sri Lanka.

Apalagi hutang di dominasi karena agresifitas pemerintah membiayai infrastruktur. Selain tol, pemerintah juga agresif dalam membangun IKN di mana sampai saat ini, belum ada investor besar yang bersedia membiayai setelah mundurnya Softbank dan konsorsium nya dari pembangunan IKN.

“Indonesia harus bijak melakukan spending. Diakui bahwa spending pembangunan infrastruktur nilai manfaat ekonomi nya sangat rendah bagi PDB Indonesia,” tutu nya.

Berkaca dari kekacauan yang terjadi di Sri Lanka, Indonesia, Kata MadNur, harus mengalihkan anggaran-anggaran kepada proyek-proyek yang dapat menciptakan kemandirian pangan dan energi sehingga Indonesia mempunyai ketahanan dalam menghadapi krisis pangan dan energi yang berisiko menciptakan krisis yang besar.

Sebagai contoh, proyek seperti Kereta Api cepat dan pembangunan IKN yang menyerap anggaran yang besar tetapi mempunyai manfaat ekonomi yang rendah.

“Jadi Indonesia harus belajar dari apa yang terjadi di Sri Lanka. Apalagi kondisi negara lagi tidak baik-baik saja. Masyarakat masih menderita dengan kenaikan-kenaikan harga,” kata Achmad.

Tanggapan

Belum ada

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Konten Terkait

Konten Terbaru