Fakta Menarik Gunung Jayawijaya, Memiliki Glester!

Hannii 0 Komentar

Jika kamu asing dengan Pegunungan Jayawijaya, yuk mengenal lebih jauh melalui beberapa fakta tentang Gunung Jayawijaya berikut ini!

Indiffs – Provinsi Papua memiliki keragaman budaya dan sumber daya alam yang melimpah. Banyak tempat wisata alam di sini, salah satunya Gunung Jayawijaya yang indah dengan pemandangan es salju abadi yang menakjubkan.

Pegunungan Jayawijaya adalah rangkaian pegunungan yang membujur di Provinsi Papua, Indonesia. Pegunungan ini menjadi salah satu keindahan dari papua seperti es salju abadi, formasi bebatuan dan gletser yang menakjubkan. Jika kamu masih asing dengan Pegunungan Jayawijaya, yuk mengenal lebih jauh melalui beberapa fakta tentang Gunung Jayawijaya di bawah ini!

1. Heinrich Harrer Merupakan Pendaki Pertama yang Mampu Mencapai Puncak nya

Pada tahun 1962, untuk pertama kalinya puncak gunung Jayawijaya di jamahi oleh manusia. Manusia ini adalah Heinrich Harrer yang berhasil melakukannya, ia dibantu oleh 3 anggota ekspedisi lainnya, yakni Russell Kippax, Bertus Huizenga dan Robert Philip temple.

Heinrich Harrer sendiri merupakan seorang pendaki yang sangat terkenal di dunia pendakian, setelah ia menuliskan pengalaman nya dalam novel Seven Years In Tibet. Kamu dapat menyaksikan kisahnya dalam film dengan judul yang sama, sebab novel tersebut sudah diangkat menjadi sebuah film.

Pendakian Heinrich Harrer di gunung Jayawijaya seakan meng-inspirasi para pendaki lainnya. Pada tahun 1964, Letkol Azwar hamid dan Direktorat Topografi Angkatan darat berhasil mencapai puncak Jayawijaya.

2. Selain Jayawijaya, Gunung Ini Memiliki 2 Nama Lainnya

Pada mulanya, gunung ini bernama Cartenz Pyramid. Penamaan tersebut dimaksudkan untuk menghormati orang yang pertama kali menemukan nya, seorang petualang berkebangsaan Belanda, yakni Jan Cartenz, pada tahun 1623. Kala itu, ia dianggap pembohong karena mengaku pernah melihat sebuah gunung tertutup salju di kawasan tropis, Indonesia.

Setelah nya, pada masa pembebasan tanah Irian dari penjajahan, namanya diubah menjadi Puncak Soekarno. Hal ini ditujukan untuk menghormati presiden pertama di Indonesia.

Kemudian, dengan campur tangan politik, pada tahun 1960an, pada masa pergantian orde lama kepada orde baru, namanya diubah kembali menjadi gunung Jayawijaya. Nama tersebut adalah nama yang dipakai hingga saat ini.

3. Gunung Jayawijaya Memiliki Jalur Pendakian yang Sangat Sulit Dilalui

Bagi para pendaki di seluruh dunia, merupakan sebuah harapan, doa dan impian untuk dapat menapakan kaki di puncak Cartenz. Pasalnya, pendakian di gunung Jayawijaya termasuk aktivitas ekstrim, mengingat jalur di gunung satu ini sangat terjal dan cuaca di sana tidak menentu, terkadang melampaui kemampuan tubuh manusia.

Oleh karenanya, kemampuan fisik dan mental saja tidak cukup untuk menggeluti jalur pendakian gunung Jayawijaya. Dibutuhkan juga kemampuan bertahan hidup, navigasi yang matang dan jumlah uang yang tidak sedikit, untuk menyewa guide, biaya transportasi atau mempersiapkan berbagai peralatan pendakian yang dikenal sangat mahal-mahal.

4. Keberadaan Salju di Puncak Cartenz Merupakan Perlawanan Terhadap Hukum Alam

Dalam hukum alam yang dikenal sejak zaman dahulu mengatakan bahwa mustahil ditemukan salju pada kawasan yang berada di garis katulistiwa, termasuk di Indonesia. Namun nampaknya hukum alam tersebut tidak berpengaruh pada puncak gunung Jayawijaya.

Oleh karenanya, Jan Cartenz disebut pembohong, bahkan gila saat mengatakan bahwa di Indonesia, ia menemukan gunung Jayawijaya yang dilapisi salju. Hingga 300 tahun kemudian, omongan Jan Cartenz terbukti, gunung Cartenz Pyramid berdiri gagah dengan salju di puncaknya.

5. Selain Salju, Jayawijaya Memiliki Glester

Glester merupakan lapisan es yang terbentuk akibat tumpukan salju selama puluhan tahun dan sangat bermanfaat sebagai sumber persediaan air tawar untuk kawasan yang berada di sekelilingnya. Karena keberadaan glester inilah puncak Cartenz disebut-sebut sebagai puncak salju abadi.

6. Cuaca yang Sangat Ekstrim di Puncak Cartenz

Hidup di atas ketinggian 4.000 mdpl itu bukanlah urusan yang mudah, jangankan bergerak bebas, bernafas pun sulit karena tipisnya kadar oksigen. Selain itu, cuaca di puncak Cartenz tidak menentu. Bila di daerah tropis lainnya kamu hanya bisa merasakan hujan air saja, maka berbeda saat di puncak Cartenz, kamu dapat menyaksikan hujan air, hujan es dan hujan salju.

Tanggapan

Belum ada

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Konten Terkait

Konten Terbaru