Kenali Tanda dan Dampak Orang Melakukan Prinsip Quiet Quitting

Siti Nurul Azizah 0 Komentar

Istilah ini menjadi sebuah prinsip kerja seseorang, dibalik itu juga ada dampak yang akan didapat bagi pekerja yang melakukan Quiet Quitting.

INDIFFS.COM – Pada dasarnya, quiet quitting ini merupakan salah satu perlawanan dari hustle culture. Yang mana, seorang pekerja memutuskan untuk mengerjakan pekerjaannya sesuai dengan kemampuan dan gaji yang diberi oleh perusahaan. Dibalik itu semua, ada beberapa dampak yang akan didapatkan bilamana seseorang menerapkan prinsip quiet quitting.

Pastinya, fenomena semacam ini sering dijumpai di tempat kerja. Umumnya seseorang yang melakukan tindakan quiet quitting ini memiliki alasan tertentu untuk melakukannya. Bahkan, tanpa disadari kamu juga pernah melakukan quiet quitting ini.

Tanda Quiet Quitting

Seseorang yang menerapkan prinsip ini, cenderung ia akan berfokus dan melakukan pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya saja. Lebih dari pada itu, ada beberapa hal lain yang menjadi tanda bahwa seseorang melakukan prinsip ini.

1. Menolak Bekerja Lembur dan Berlebihan

Tanda pertama seseorang yang melakukan quiet quitting ialah melakukan penolakan terhadap suatu pekerjaan secara berlebihan apalagi lembur. Baginya, pekerjaannya akan berhenti ketika jam kerjanya sudah habis.

Ia juga tidak mau membalas atau membahas hal-hal yang berkaitan dengan kantor di luar jam kerja dan selalu pulang tepat pada waktunya. Dapat diartikan bahwa ia akan mengutamakan prinsip “tenggo” atau pulang tepat waktu. Ia juga akan menolak apabila membicarakan masalah pekerjaan di luar jam kerja.

2. Tidak Ingin Terlibat dalam Urusan Kantor

Bagi seseorang yang menerapkan prinsip, quiet quitting cenderung ia tidak mau terlibat dalam urusan pekerjaannya, apalagi jika sedang berada diluar jam kerja. Menurutnya, bekerja hanyalah mengerjakan tanggung jawabnya saja dan ia tidak akan mau mengikuti kegiatan-kegiatan yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan.  Selain itu, ia juga tidak memiliki semangat untuk melakukan inovasi-inovasi baru pada pekerjaannya.

3. Tidak Tertarik dengan Promosi Jabatan

Seseorang yang tidak tertarik dengan promosi jabatan atau jenjang karir, itu tandanya ia memiliki prinsip quiet quitting. Ia akan beranggapan bahwa dirinya hanya sebatas bekerja dan tidak memiliki gairah untuk maju berkembang dalam pekerjaan yang ia lakukan. Selain itu, ia juga tidak memiliki keinginan untuk naik jabatan ataupun meningkatkan karirnya.

4. Malas Bersosialisasi dengan Urusan Kantor atau Pekerjaan

Tanda selanjutnya ialah malas dalam bersosialisasi, terutama dalam urusan pekerjaannya. Karena memang baginya bekerja hanyalah tempat untuk mencari uang. Terlebih ia juga bekerja hanya mengerjakan tanggung jawabnya saja. Apalagi jika membahas mengenai pekerjaan diluar jam bekerjanya.

5. Tidak Menjalin Hubungan Pertemanan

Seseorang yang menerapkan prinsip quiet quitting hanya melihat kantor sebagai tempat bekerja, tempatnya mencari nafkah. Itulah mengapa ia membatasi diri untuk bergaul lebih dekat dengan teman kerjanya. Selain itu, ia juga tidak akan melibatkan diri dalam pembahasan mengenai hal pribadi dengan teman kerjanya.

Dampak Quiet Quitting

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya istilah ini menjadi sebuah prinsip yang mana lebih mengutamakan kesehatan mental pekerja. Terlebih seseorang yang melakukan prinsip ini akan menghadirkan dampak-dampak lainnya, baik bagi pekerja maupun tempat ia bekerja.

Dampak Positif

Ada beberapa dampak positif yang akan didapatkan jika seseorang menerapkan prinsip ini, diantaranya:

1. Meningkatnya Kualitas Hidup

Seseorang yang menerapkan prinsip ini cenderung kehidupan pribadi dan pekerjaannya menjadi lebih seimbang. Tentunya ini dapat meningkatkan kualitas hidupnya, hal ini karena ia telah mempunyai waktu untuk kehidupan pribadinya.

2. Bekerja Lebih Efektif

Selanjutnya seseorang yang melakukan konsep ini ia akan bekerja lebih efektif. Hal ini karena ia lebih memanfaatkan waktu jam bekerjanya. Sehingga akan membuat ia menjadi bisa bekerja lebih efektif. Selain itu, ini juga karena ia akan benar-benar menggunakan waktu kerjanya untuk menyelesaikan tugas.

3. Mencegah Born Out

Burnout ini muncul akibat seseorang yang kelelahan fisik atau mental akibat bekerja terlalu banyak. Namun, jika seseorang melakukan Quiet Quitting itu berarti ia telah mencegah Bornout terjadi. Selain itu, ia juga dapat terhindar dari kondisi buruk dan akan membuat kinerja atau performa kerja lebih terjaga.

4. Mengatasi Kelelahan Kronis

Seseorang yang menerapkan prinsip Quiet Quitting cenderung ia akan bekerja lebih efektif.  Tentunya ini akan meningkatkan kesejahteraan dan melindungi diri dari kelelahan fisik secara berlebihan.

5. Menjernihkan Pikiran

Dampak positif selanjutnya yang akan didapatkan ialah akan menjernihkan pikirannya. Bukan tanpa alasan melainkan seseorang yang melakukan quiet quitting ia akan  berhenti melakukan pekerjaan di luar jam bekerjanya. Dalam artian ia telah memberikan waktu untuk mengistirahatkan pikirannya. Tentunya hal ini akan membuat pikiran nya terjaga dan bebas dari stres bahkan depresi.

Dampak Negatif

Meski dengan menerapkan prinsip ini akan mendapatkan dampak positif, namun tidak dipungkiri bahwa ini juga bisa memberikan dampak negatif. Adapun dampak negatif diantaranya:

1. Mengurangi Produktivitas Pekerja dan Tempat Ia Bekerja

Dampak Negatif yang pertama ialah akan mengurangi produktivitasnya dalam bekerja. Hal ini karena, ia hanya akan melakukan pekerjaan utamanya saja tanpa mencoba hal-hal baru lainnya.

Namun sebenarnya, pekerja bisa saja menjadi produktif, asalkan ada fasilitas yang mendukung dan pelatihan untuk meningkatkan kemampuannya. Akan tetapi, kebanyakan perusahaan tidak memberikan hal tersebut, hingga pada akhirnya ia pun memilih untuk bekerja biasa-biasa saja.

2. Risiko Terjadinya Pemecatan atau PHK

Selain akan mengurangi produktivitas pekerja, seseorang yang melakukan Quiet Quitting juga akan berisiko terjadinya pemecatan atau PHK. Hal ini sebagaimana penjelasan psikolog yang menjelaskan bahwa quite quitting bisa berdampak pada potensi PHK pada karyawan.

Ini karena, para pekerja dengan prinsip quite quitting hanya akan mengerjakan tugas sesuai dengan porsinya dan cenderung tidak bisa produktif, dalam artian stagnan. Oleh karena itu, ia akan lebih berpotensi diberhentikan oleh perusahaannya.

Itulah beberapa penjelasan seputar tanda dan dampak yang akan didapatkan bagi seseorang yang menerapkan prinsip Quiet Quitting pada pekerjaannya. Dapat diartikan bahwa Quiet Quitting ini memanglah tidak ada salahnya, namun jika dilakukan secara berlebihan ini akan memberikan dampak buruk bagi pekerja ataupun perusahaan.

Tanggapan

Belum ada

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Konten Terkait

Konten Terbaru