Makna Kemerdekaan Serta Nasionalisme Dalam Bingkai Islam

Siti Nurul Azizah 0 Komentar

Kemerdekaan membutuhkan pemersatu diatas perbedaan yang ada, hal ini lah yang di lakukan pahlawan terdahulu demi terwujud makna kemerdekaan.

Indiffs – Bertepatan pada hari ini tanggal 17 Agustus, Indonesia memperingati hari kemerdekaan nya. Ya, HUT-RI 17 Agustus merupakan peringatan hari kemerdekaan indonesia yang ke-77. Semarak menyambutnya telah terlihat dari jauh-jauh hari. Itu dapat terlihat dengan adanya spanduk, bendera, umbul-umbul, dan baliho-baliho yang bertuliskan “Dirgahayu Kemerdekaan” menghiasi jalanan.

Ini sudah seharusnya kita sebagai bangsa Indonesia bangga dalam hal ini. Mengingat dahulu para pahlawan telah berjuang menghadapi penjajahan demi kemerdekaan bangsa indonesia ini. Momentum inilah sudah sepatutnya kita sebagai warga indonesia yang mayoritas muslim ini untuk merenungi makna kemerdekaan dan nasionalisme dalam Islam.

Sebelum kita melihat lebih jauh, ada baiknya kita mencoba mengingat kembali bagaimana kemerdekaan itu bisa hadir di negeri tercinta ini. Ketika kita membuka kembali lembaran-lembaran sejarah bangsa ini, maka kita akan menemukan jejak Islam di setiap lembarannya. Ya, jejak perjuangan kaum muslimin dan para ulama yang menentang penindasan dan mengagungkan nama Islam. Bahkan perjuangan kemerdekaan tersebut telah ada jauh sebelum terbayangnya sebuah komunitas bernama Indonesia.

Dalam KBBI pun, menjelaskan kemerdekaan atau merdeka setidaknya memiliki tiga makna yaitu bebas dari penjajahan, bebas dari tuntutan dan tidak terikat atau tergantung pada pihak tertentu.

Makna tersebut juga di tunjukan dengan makna yang sama  oleh pesan al-Qur’an agar manusia bebas dari segala bentuk ketundukan kecuali kepada Sang Pencipta. Al-Qur’an melarang manusia untuk tunduk kepada manusia lainnya sebagaimana isyarat al-Qur’an terkait hal tersebut:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقۡنَٰكُم مِّن ذَكَرٖ وَأُنثَىٰ وَجَعَلۡنَٰكُمۡ شُعُوبٗا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓاْۚ إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٞ

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Q.S Al-Hujarat [49]: 13)

Dalam ayat di atas secara tegas telah Allah jelaskan bahwa yang paling mulia di antara manusia adalah yang paling bertakwa bukan siapa yang paling pintar, kaya atau tinggi kedudukannya. Sedang yang mengetahui kadar ketakwaan seseorang hanya Allah Swt. Maka tidak dibenarkan seseorang untuk merasa hina di hadapan manusia lainnya karena banyaknya harta, luasnya ilmu dan tingginya kedudukan. Kelebihan yang dimiliki oleh sebagian manusia tersebut tidak bersifat esensial tapi hanya sebuah sistem kehidupan dunia agar mereka saling mengenal atau menolong sebagaimana pesan tersebut juga dijelaskan dalam ayat di atas dalam bentuk penciptaan manusia dari laki-laki dan perempuan.

Menjadi laki-laki tidak untuk merasa lebih baik dari kaum perempuan namun hanya sebagai sarana untuk saling mengenal, saling mendukung agar tercapainya cita-cita manusia untuk menjadi khalifah di muka bumi ini. Demikian pula hal dengan perbedaan lainnya yang boleh jadi ada yang menganggap hal tersebut sebagai kelebihan atas yang lainnya. (sumber dari cariustadz.id)

Adapun Bangsa yang merdeka adalah bangsa yang mampu memerdekakan rakyat dan bangsanya dari ketergantungan ekonomi dan politik dari bangsa-bangsa lain serta mampu membangun kemandirian ekonomi dalam mengelola sumber ekonomi negaranya untuk menggapai kehidupan yang mandiri, adil dan sejahtera serta bermartabat. Begitu pula masyarakat mudah untuk memperoleh akses penghidupan yang layak, pekerjaan, informasi, pendidikan, kesehatan, perlindungan, lapangan usaha dan jaminan sosial serta bebas menjalankan syariat agama masing-masing.

Kemerdekaan membutuhkan kepastian hidup yang mensejahterakan ekonomi masyarakat untuk hidup secara harmonis dan saling menghormati. Selain itu juga bangsa yang merdeka adalah masyarakat yang merasakan adanya kepastian hukum yang tegas dan adil kepada semua pihak, dimana hukum menjadi payung dalam berbangsa dan bernegara tanpa ada sedikitpun diskriminasi untuk semua rakyat dalam kaca mata hukum apapun latar belakangnya.

Akhirnya kemerdekaan yang telah diraih dengan pengorbanan pikiran, tenaga, harta, air mata dan nyawa pejuang-pejuang bangsa terdahulu kita dapat menjaga, mempertahankan, memperjuangkan, dan mengisi kemerdekaan dengan memaksimalkan seluruh potensi alam, sumber daya manusia, dan nilai-nilai juang bangsa Indonesia. Olehnya itu diharapkan semangat, dan kebersamaan sebagai bangsa yang besar untuk bangkit melawan belenggu ketertinggalan untuk mencapai kehidupan bangsa yang mandiri, adil dan makmur yang diridhoi oleh Allah swt. (Melasnsir dari Alaudin yang ditulis oleh H parakkasi)

Kemerdekaan juga butuh kepastian hidup yang pada akhirnya entah ini akan tetap hidup dalam kemerdekaan atau kesengsaraan. Bangsa membutuhkan sikap toleran yang menjadi pemersatu bangsa, menghargai perbedaan itu lah yang menjadi tegak nya kemerdekaan bangsa indonesia ini.

Hal itulah yang sudah dilakukan oleh para pahlawan terdahulu, sehingga terciptalah kemerdekaan Indonesia hingga kini yang ke-77 tahun hari ulang tahun kemerdekaan. Sikap-sikap pemersatu bangsa tidak boleh kita hilangkan sebagai bangsa Indonesia yang bersatu. Tanam kan dalam diri sebagai umat muslim, sikap nasionalisme serta patriotisme dengan berlandaskan ajaran yang benar, tidak menyelewengkan, dibawah tegak nya agama Islam. Itulah makna kemerdekaan sesungguhnya.

Tanggapan

Belum ada

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Konten Terkait

Konten Terbaru