Mengenal Konstipasi Pada Anak, Penyebab, Serta Gejalanya

Admin 0 Komentar

Perubahan pola makanan ini dapat memicu masalah baru, salah satunya yaitu konstipasi pada anak. Kenali penyebab dan gejala konstipasi berikut

INDIFFS.COM – Seiring bertambahnya usia, jumlah ASI yang bayi minum juga semakin sedikit dan jumlah menu makanan padat semakin banyak. Perubahan pola makanan ini dapat memicu masalah baru, salah satunya yaitu konstipasi pada anak. 

Mengenal Konstipasi Pada Anak

Kata konstipasi atau constipation berasal dari bahasa Latin constipare yang mempunyai arti bergerombol bersama. Konstipasi adalah ketidakmampuan melakukan evakuasi tinja secara sempurna yang tercermin dari berkurangnya frekuensi berhajat dari biasanya, tinja lebih keras, lebih besar dan nyeri dibandingkan sebelumnya serta pada perabaan perut teraba massa tinja (skibala). 

Konstipasi adalah masalah kesehatan yang sangat umum terjadi pada anak-anak. Orang tua tak perlu cemas berlebihan. Anak dianggap mengalami konstipasi bila buang air besar kurang dari tiga kali dalam seminggu, sulit buang air besar, atau fesesnya keras, kering, dan amat besar.

Konstipasi terjadi ketika feses bergerak terlalu lambat di dalam usus besar. Usus besar menyerap air ketika akan mengeluarkan feses. Gerakan otot mendorong feses menuju rektum. Saat anak mengalami sembelit, gerakan otot di usus besar terlalu lambat dan usus besar menyerap terlalu banyak air. 

Alhasil, feses menjadi sangat keras dan kering sehingga susah bergerak. Ketika mencapai rektum, sebagian besar air di usus besar sudah terserap dan feses sulit keluar. Anak akan merasa kesakitan ketika hendak mengeluarkan feses dan tidak nyaman beraktivitas. 

Penyebab Konstipasi

Setelah mengetahui penjelasan konstipasi, penting bagi ibu untuk mengetahui penyebabnya. Berikut ini penyebab konstipasi pada anak:

1. Kurang Makanan Berserat

Sebuah studi menemukan bahwa anak-anak usia TK yang mengonsumsi lebih banyak serat mengalami kasus konstipasi yang lebih sedikit anak-anak seusia nya yang kurang makan berserat. Makanan tinggi serat contohnya adalah buah, sayuran dan kacang-kacangan.

2. Kebiasaan Menahan BAB

Salah satu penyebab konstipasi pada anak yang sering dijumpai adalah akibat sering menahan BAB. Entah itu karena anak sedang asyik bermain, takut ke toilet sendirian, atau mengalami trauma toilet. Trauma toilet bisa disebabkan karena kondisi toilet yang kurang bersih, bau tak sedap, atau ada binatang kecil yang membuatnya takut.

Akibat trauma tersebut, anak jadi menahan BAB sehingga tinja nya akan semakin keras dan semakin sulit dikeluarkan. Trauma ini harus diatasi agar anak merasa nyaman saat BAB. Temani si Kecil di toilet dan pastikan kondisi toilet sudah bersih dan nyaman untuk membuatnya pelan-pelan bisa melupakan trauma nya.

3. Kurang Minum Air Putih

Meski konstipasi lebih banyak ditemukan pada anak usia sekolah, tetapi anak-anak dibawah usia 2 tahun juga kerap mengalami konstipasi. Penyebabnya adalah kurang minum air putih. Saat anak mengalami konstipasi yang disebabkan oleh kurang minum air putih, pastikan kebutuhan cairan nya terpenuhi dan berikan buah-buahan selain pisang dan apel.

4. Kurang Aktivitas

Aktif bergerak akan membantu peredaran darah lebih lancar ke seluruh tubuh termasuk sistem pencernaan si Kecil, ia akan mengalami masalah pada perutnya bila ia tidak aktif bergerak, sehingga menyebabkan susah BAB pada balita.

5. Kurang Cocok dengan Susu Formula yang Dikonsumsi

Penyebab anak balita susah BAB yang lainnya yaitu karena asupan susu formula yang dikonsumsi kurang cocok. Pastikan susu yang dikonsumsi anak mengandung prebiotik dan probiotik yang baik untuk pencernaan.

Gejala Konstipasi

Adapun gejala konstipasi pada anak yaitu berikut ini:

  1. Defekasi (frekuensi buang air besar) kurang dari dua kali per minggu.
  2. Feses dengan diameter besar, kering, dan keras.
  3. Retensi tinja berlebihan. Artinya kebiasaan si kecil yang menahan rasa ingin buang air besar. Biasanya ditandai dengan munculnya sisa feses kering di celana dalam si Kecil.
  4. Mengejan yang sangat sakit.
  5. Massa feses yang besar pada rektum. Di kondisi ini, si kecil merespon dorongan BAB, namun feses tidak bisa keluar dan tertahan di rektum.

Demikian penjelasan terkait konstipasi pada anak yang perlu ibu ketahui. Jangan ragu untuk memeriksakan anak ke dokter jika terdapat gejala yang lebih diwaspadai seperti darah yang keluar dari rektum atau tinja, sakit perut terus menerus, muntah dan berat badan turun.

Tanggapan

Belum ada

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Konten Terkait

[quads id=1]

Konten Terbaru