Mengenal Lie Detector, Alat Pendeteksi Kebohongan

Siti Nurul Azizah 0 Komentar

Mengenal Lie detector alat yang digunakan hukum untuk menyelediki kasus yang belum terpecahkan, lalu seberapa akurat alat ini untuk digunakan?

Indiffs – Baru baru kali ini lie detector menjadi perbincangan hangat masyarakat Indonesia. Lie detector atau alat pendeteksi kebohongan ini digunakan untuk menyelidiki kasus pembunuhan, seperti yang telah beredar kasus pembunuhan Ferdy Sambo oleh Brigadir J beberapa hari lalu yang melibatkan alat ini sebagai penyidikan kasus tersebut.

Dan tak hanya itu, alat ini juga bisa digunakan untuk mengungkap suatu perkara yang sulit dipecahkan. Lantas apa itu lie detector sebenarnya serta bagaimana cara bekerjanya dan seberapa akurat alat ini?

Apa Itu Lie Detector?

Lie detector jika diterjemahkan artinya detektor kebohongan yang merupakan sebuah alat pendeteksi kebohongan seseorang dengan menggunakan mesin Polygraph.

Yang dimana mesin polygraph merupakan alat untuk menguji kejujuran seseorang melalui reaksi tubuh. Alat pendeteksi kebohongan ini memiliki tiga sensor utama dengan cara kerja berbeda.

Awal adanya mesin pendeteksi kebohongan ini tidak terlepas dari sejarah penemuan polygraph sendiri pada tahun 1921 di Berkeley, California. Penemuan mesin pertama lie detector diciptakan oleh petugas polisi Berkeley, John Larson.

Alat pendeteksi kebohongan ini didasarkan pada tes tekanan darah sistolik yang dikembangkan oleh psikolog Harvard, William Mouton Marston yang kemudian dikenal sebagai mesin polygraph. Marston meyakini bahwa perubahan tekanan darah dapat menunjukkan apakah seseorang sedang berbohong atau tidak.

Sementara polygraph modern sekarang yang sering digunakan sebagai alat penyelidikan tak hanya mengukur tekanan darah, tetapi juga berbagai perubahan fisik seperti denyut nadi dan pernapasan.

Cara Kerja Lie Detector

Berikut cara kerja alat pendeteksi kebohongan yang dapat dilihat berdasarkan psikologis tubuh, yang dimana menggunakan sensor yang akan ditempatkan pada subjek tes. Sensor ini akan merekam pernapasan, detak jantung, tekanan darah dan respons kulit galvanis atau kelembapan di ujung jari.

  • Melalui Sensor Pneumograf

Sensor Pneumograf  ini gunanya untuk mendeteksi detak nafas, yakni dengan cara dua pneumograf tabung karet berisi udara di simpan pada bagian perut dan dada, yang dimana sensor yang berfungsi untuk mendeteksi detak napas. Ketika otot dada atau perut mengembang, udara di dalam tabung dipindahkan dalam polygraph analog, udara yang dipindahkan bekerja pada bellow, perangkat seperti akordeon yang berkontraksi ketika tabung mengembang.

Bellow ini dilekatkan pada lengan mekanis, yang terhubung ke pena berisi tinta yang membuat tanda di kertas gulir saat subjek menarik napas. Polygraph digital juga menggunakan pneumograf, tetapi menggunakan transduser untuk mengubah energi udara yang dipindahkan menjadi sinyal elektronik.

  • Tekanan Darah/ Denyut Jantung

Sebuah manset tekanan darah ditempatkan di sekitar lengan atas subjek. Pipa mengalir dari manset ke Polygraph, saat darah dipompa melalui lengan dan itu akan membuat suara. Perubahan tekanan yang disebabkan oleh suara menggantikan udara dalam tabung yang terhubung pada bellow, yang menggerakkan pena. Dalam polygraph digital, sinyal ini diubah menjadi sinyal listrik oleh transduser.

  • Galvanic skin resistance (GSR)

Cara kerja alat ini pada dasarnya adalah pada ukuran keringat di ujung jari Anda. Ujung jari adalah salah satu area yang paling keropos di tubuh dan merupakan tempat yang baik untuk mencari keringat. Idenya adalah bahwa kita lebih banyak berkeringat ketika kita berada di bawah tekanan.

Pelat jari, yang disebut galvanometer ini dipasang pada dua jari subjek. Pelat ini mengukur kemampuan kulit untuk menghantarkan listrik. Saat kulit terhidrasi (seperti halnya keringat), kulit lebih mudah menghantarkan listrik daripada saat kering. Resistansi pada kulit manusia akan berubah-ubah tergantung banyak atau sedikit keringat pada kulit manusia. Dan orang yang berbohong akan lebih berkeringat dibanding dengan kondisi ketika orang tersebut tidak berbohong.

Apakah Lie Detector Akurat?

Tentunya untuk mengetahui seberapa akurat alat pendeteksi kebohongan ini perlu dilakukan penelitian. Dilansir dari detik.com, Peneliti deteksi kebohongan Prof. Aldert Vrij mengatakan, akurasi polygraph ini sudah diperdebatkan sejak ditemukan pada 1921.

Ia mengatakan, namanya sebagai ‘alat pendeteksi kebohongan’ pun pada dasarnya sudah salah. “Alat ini tidak mengukur kebohongan, yang seharusnya jadi inti fungsinya. Konsepnya, pembohong akan menunjukkan peningkatan respons tubuh saat menjawab pertanyaan kunci, sementara orang yang menjawab jujur tidak. Tapi tidak ada teori yang kuat untuk mendukung konsep ini,” kata Vrij.

Padahal, sambungnya, ada beberapa aspek yang memungkinkan hasil tes polygraph akurat. Akurasi terbaik, menurutnya, bisa lebih tinggi dari kemampuan rata-rata orang untuk memberitahu jika orang lain sudah berbohong.

“Jika pemeriksa terlatih, jika tes dilakukan dengan benar, dan jika ada kontrol kualitas yang tepat, akurasi diperkirakan antara 80%-90%,” katanya.

Van der Zee menambahkan, ikut tes pendeteksi kebohongan saja pada dasarnya bisa meningkatkan rasa stres dan membuat peserta merasa bersalah, meskipun tidak bersalah.

Jelas tentunya jika orang yang diwawancarai tidak bersalah, melakukan tes polygraph ini, akan menimbulkan emosional yang tinggi. Sehingga ini dapat berisiko terdeteksi sebagai indikasi sedang berbohong, faktor inilah membuat hasil tes alat pendeteksi kebohongan tidak akurat.

Tanggapan

Belum ada

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Konten Terkait

Konten Terbaru