Sejarah Hari Golongan Karya yang Diperingati Setiap 20 Oktober

Admin 0 Komentar

Pada 20 Oktober adalah hari HUT Ke- 58 Partai Golkar atau Golongan Karya. Berikut ini ada sejarah awal berdirinya partai Golkar. Simak disini

INDIFFS.COM – Pada 20 Oktober dalam rangka menyemarakkan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-58 Partai Golongan Karya (Golkar) Kabupaten Bengkalis, pagi ini Bupati Bengkilis melalui Staf Ahli Bupati di Bidang Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan, Johansyah Syafri hadir dalam kegiatan Jalan Sehat.

Mewakili Bupati Bengkalis, Johansyah Syafri juga menyampaikan ucapan selamat HUT Ke-58 Partai Golkar Bengkalis, semoga momentum HUT golkar ini dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas akselerasi Partai Golkar Kabupaten Bengkalis dalam percepatan Pembangunan di Negeri ini dalam mewujudkan Rakyat Bengkali yang sederhana.

“Dan kepada masyarakat selamat megikuti jalan santai, semoga dapat menjadikan kita lebih sehat secara jasmani, bersama kita bisa, dan kita bisa bersama “Dirgahayu HUT Ke-58 Partai Golkar, sehat, sehat dan jaya,” tutup Johansyah.

Sejarah Berdirinya Partai Golkar

Partai Golkar adalah salah satu partai politik Indonesia yang pertama kali berdiri pada tahun 1964. Akan tetapi pada saat itu, statusnya belum sebagai partai politik, tetapi Sekber golkar atau Sekretariat Bersama Golongan Karya. Barulah pada akhir 1998, Golkar mendeklarasikan diri sebagai partai politik yang mengusung semangat reformasi yang berintikan keadilan, demokrasi dan transparansi.

Golkar sendiri muncul dari kolaborasi gagasan 3 tokoh, yakni Soekarno, Soepomo dan Ki Hadjar Dewantara. Ketiganya, mengajukan gagasan integrastik, kolektivitis sejak 1940. Gagasan 3 tokoh ini mewujud dengan adanya Golongan Fungsional, kemudian berubah dalam bahasa Sansekerta sehingga menjadi Golongan Karya pada 1959. Hingga saat ini, partai Golkar dikenal dalam dunia politis nasional.

Awal Mula Berdirinya Sekber Golkar Hingga Partai Golkar

Awal mula terbentuknya Sekber Golkar pada akhir pemerintahan Presiden Soekarno. Yang dimana awalnya Sekber Golkar menetap sebagai sebuah alternatif gagasan untuk menjembatani sebuah kepentingan tengah terpolarisasinya politik dan ideologi.

Akan tetapi dalam pengembangan nya, organisasi ini menggunakan oleh golongan militer, khusus nya Angkatan Darat bersama puluhan organisasi pemuda, wanita, sarjana, tani, buruh dan nelayan sebagai senjata anti Partai Komunis Indonesia (PKI). Dengan lahirnya Sekber Golkar juga tidak lepas dari adanya rongrongan dari PKI beserta ormas yang semakin merajalela.

Pembentukan Sekber Golkar di tandatangani oleh 53 serikat butuh dan organisasi pengawal negeri sipil, 10 intelektual, 10 pelajar, 5 organisasi perempuan, 4 asosiasi media, 2 petani, nelayan dan pihak militer. Ketua umum pertama pemimpin Sekber Golkar adalah Djuhartono.

Semakin lama, jumlah anggota Sekber Golkar ini bertambah dengan pesat, karena golongan fungsional lain yang menjadi anggota dalam Front Nasional menyadari bahwa perjuangan dari organisasi fungsional Sekber adalah untuk menegakkan Pancasila dan UUD 1945. Semula anggotanya berjumlah 61 organisasi yang kemudian berkembang hingga mencapai 291 organisasi.

Mulai Terlihat nya Sekber Golkar

Setelah peristiwa G30 S, Sekber mulai terlihat sebagai mesin elektoral yang menjamin posisi dominan militer di dalam politik. Sekber juga mengalami pertarungan politik internal, dimana para perwiira militer dan pemimpin sipil dekat dengan Soekarno tersingkirkan dan gantikan dengan mereka yang dekat dengannya. Pada 1969, organisasi anggotanya dirampingkan dan Sekber pimpin oleh Meyjen Sokowati.

Pada Pemilu 1971, Sekber Golkar berhasil memperoleh suara sebanyak 62,8 persen dan memperoleh 227 kursi yang sesuai dengan ketentuan dalam ketetapan MPRS tentang perlunya penataan ulang pada politik Indonesia, maka tanggal 17 Juli 1971, Sekber Golkar mengubah dirinya menjadi Golkar.

Golkar pun menggunakan struktur baru, yang menunjukkan kelompok Soeharto dan militer mendominasi dengan memiliki kekuasaan paling besar. Partai Golkar (1999- saat ini) Reformasi membawa perubahan politik nasional, yang berimbas besar terhadap Golkar. Golkar dianggap sebagai warisan Orde Baru yang merupakan sumber krisis multi mensional rakyat Indonesia.

Golkar pun terancam bubar karena turut melanggengkan rezim Orde Baru. Pada akhirnya, melakukan Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) pada 9-11 Juli 1998. Saat itu, terjadi fragmentasi politik antara kubu Edi Sudrajat dan Akbar Tandjung.

Pada akhir 1998, Golkar mendeklarasikan diri sebagai partai politik yang mengusung semangat reformasi. Sedangkan kubu Edi Sudrajat mendirikan partai baru dengan nama Partai Keadilan dan Persatuan (PKP) pada 15 Januari 1999. Pada Pemilu 1999, Golkar menempati posisi kedua dengan perolehan suara 22,5 persen dan 120 kursi di parlemen. Ketua Umum Partai Golkar sekarang adalah Airlangga Hartarto, yang juga menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Indonesia periode 2019-2024. Sampai saat ini, Partai Golkar merupakan salah satu kekuatan politik yang berpengaruh di Indonesia.

Tanggapan

Belum ada

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Konten Terkait

[quads id=1]

Konten Terbaru