Tata Cara Pelaksanaan Aqiqah Sesuai Sunnah Beserta Dalil-Nya

Admin 0 Komentar

Aqiqah merupakan amalan untuk menyembelih hewan atas kelahiran seorang bayi. Berikut tata cara pelaksanaan aqiqah dan dalil sesuai sunnah.

INDIFFS.COM – Salah satu sunnah atas hadirnya seorang bayi adalah melaksanakan aqiqah. Tata cara aqiqah, umumnya dilaksanakan pada hari ke tujuh setelah kelahiran anak. Acara ini dilakukan dengan prosesi penyembelihan hewan ternak seperti kambing atau domba, setelah itu dibagi-bagikan kepada keluarga dan tetangga.

Aqiqah umumnya dilakukan pada hari ke-7, 14 dan 21 setelah kelahiran seorang anak. Menurut Islam, ketentuan aqiqah yakni hewan yang disembelih saat aqiqah adalah kambing. Dua ekor untuk laki-laki dan satu ekor kambing untuk bayi perempuan.

Banyak hikmah dan keutamaan dari proses pelaksanaan ibadah aqiqah bagi orang tua dan anak. Yakni:

  1. Pelaksanaannya membantu dalam mewujudkan rasa syukur kepada Allah atas kelahiran seorang anak yang dapat menjadi penerus yang sholeh dan sholehah.
  2. Melaksanakannya berarti meneladani dan mengikuti sunnah dari Rasulullah SAW.
  3. Dapat menjadi momen untuk berbagi pada sesama dengan mempererat tali persudaraan serta silaturahmi.
  4. Sebagai bentuk rasa gembira dan upaya membagikan kegembiraan tersebut.

Tata Cara Pelaksanaan Aqiqah

Kelahiran sang anak, tentunya membawa kebahagiaan untuk keluarga. Umat islam biasanya melakukan aqiqah untuk menunjukkan rasa syukur atas kehadiran si kecil. Berikut ini cara pelaksanaan aqiqah:

  • Memilih Kambing Aqiqah

Dalam memilih kambing, pastikan kriteria yang serupa dengan hewan qurban, seperti kambing dalam keadaan sehat, tidak cacat, penyakit an, berkualitas dan umur dari hewan ternak idealnya telah menginjak usia 1 tahun. Dianjurkan 2 ekor kambing untuk laki-laki dan 1 ekor untuk perempuan.

  • Sembelih Kambing

Kambing sebaiknya disembelih pada saat pelaksanaan aqiqah pas 7 hari bayi lahir. Jika sang anak lahir pada malam hari, maka 7 hari dapat di hitung mulai keesokan harinya.  Sebelum melaksanakannya, sebaiknya panjatkan doa berikut ini:

بِسْمِ اللهِ وَاللهُ أَكْبَرُ ( اللهم مِنْكَ وَلَكَ ) اللهم تَقَبَّلْ مِنِّي هَذِهِ عَقِيْقَةُ

Artinya: “Dengan menyebut asma Allah. Allah Maha Besar. Ya Allah, dari dan untuk-Mu. Ya Allah, terimalah dari kami. Inilah aqiqahnya … (sebutkan nama bayi)”.

  • Memasak Daging Aqiqah

Sebelum dibagikan, dianjurkan untuk memasak daging tersebut kepada sanak saudara atau kerabat serta tetangga. Daging aqiqah harus diberikan dalam keadaan matang, tidak boleh masih dalam kondisi mentak layaknya daging qurban. Orang tua sang anak juga disunnahkan mengkonsumsi daging aqiqah anaknya dan sepertiga daging lainnya diberikan pada tetangga atau orang yang membutuhkan.

  • Mencukur Rambut dan Memberi Nama Saat Aqiqah

Sama seperti pemberian nama baik, memberikan nama yang baik dapat mencerminkan akhlak dan imannya nanti kepada Allah SWT. Rasulullah SAW sangat menganjurkan untuk mencukur rambut anak yang baru ke-7. Tata cara menurut islam.

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ أَللهم نُوْرُ السَّمَاوَاتِ وَنُوْرُالشَّمْسِ وَالْقَمَرِ, اللهم سِرُّ اللهِ نُوْرُ النُّبُوَّةِ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

“Dengan menyebut asma Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, Ya Allah, cahaya langit, matahari dan rembulan. Ya Allah, rahasia Allah, cahaya kenabian, Rasululullah SAW, dan segala puji Bagi Allah, Tuhan semesta alam.”

Setelah itu ada doa yang dapat dipanjatkan setelah mencukuri rambut sang anak. Berikut doa meniup ubun-ubun anak

اللَّهُمَّ إِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon perlindungan untuk dia dan keluarganya dari setan yang terkutuk.”

Dalil Hadis Tentang Aqiqah

Aqiqah bayi adalah ibadah yang hukumnya sunnah mu’akkadh atau sunah yang sangat dianjurkan. Berikut ini beberapa hadis mengenai aqiqah:

  • Hadits Riwayat Abu Dawud

كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّيكُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تَذْ بَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى

“Setiap bayi tergadai dengan Aqiqahnya, disembelihkan (kambing) untuknya pada hari ke tujuh, dicukur dan diberi nama.” [HR Abu awud, no. 2838, at-Tirmidzi no. 1522, Ibnu Majah no. 3165 dll dari sahabat Samurah bin Jundub Radhiyallahu anhu. Hadits ini dishahihkan oleh al-Hakim dan disetujui oleh adz-Dzahabi, Syaikh al-Albani dan Syaikh Abu Ishaq al-Huwaini dalam kitab al-Insyirah Fi Adabin Nikah hlm. 97].

  • Hadits Riwayat Abu Dawud
عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدَبٍ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: كُلُّ غُلاَمٍ رَهِيْنَةٌ بِعَقِيْقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَ يُحْلَقُ وَ يُسَمَّى

Dari Samurah bin Jundab, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Tiap-tiap anak tergadai (tergantung) dengan ‘Aqiqahnya yang disembelih untuknya pada hari ke-7, di hari itu ia dicukur rambutnya dan diberi nama.” [HR. Abu Dawud juz 3, hal. 106, no. 2838].

  • Hadits Riwayat Ibnu Majah
عَنْ سَمُرَةَ عَنِ النَّبِيّ ص قَالَ: كُلُّ غُلاَمٍ مُرْتَهَنٌ بِعَقِيْقَتِهِ. تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ السَّابِعِ وَ يُحْلَقُ رَأْسُهُ وَ يُسَمَّى

Dari Samurah, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Setiap anak tergadai dengan ‘Aqiqahnya, yang disembelih untuknya pada hari ke-7, dicukur rambutnya, dan diberi nama.” [HR. Ibnu Majah juz 2, hal. 1056, no. 3165].

  • Hadits Riwayat Hakim
عَنْ عَائِشَةَ رض قَالَتْ: عَقَّ رَسُوْلُ اللهِ ص عَنِ اْلحَسَنِ وَ اْلحُسَيْنِ يَوْمَ السَّابِعِ وَ سَمَّاهُمَا وَ اَمَرَ اَنْ يُمَاطَ عَنْ رُؤُوْسِهِمَا اْلاَذَى. الحاكم فى المستدرك 4: 264، رقم: 7588

Dari ‘Aisyah RA, ia berkata, “Rasulullah SAW pernah ber’Aqiqah untuk Hasan dan Husain pada hari ke-7 dari kelahirannya. Beliau memberi nama dan memerintahkan supaya dihilangkan kotoran dari kepalanya (dicukur).” [HR. Hakim, dalam Al-Mustadrak juz 4, hal. 264, no. 7588].

  • Hadits Riwayat Abu Dawud
كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّيكُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تَذْ بَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى

“Setiap bayi tergadai dengan Aqiqahnya, disembelihkan (kambing) untuknya pada hari ke tujuh, dicukur dan diberi nama.” [HR Abu awud, no. 2838, at-Tirmidzi no. 1522, Ibnu Majah no. 3165 dll dari sahabat Samurah bin Jundub Radhiyallahu anhu. Hadits ini dishahihkan oleh al-Hakim dan disetujui oleh adz-Dzahabi, Syaikh al-Albani dan Syaikh Abu Ishaq al-Huwaini dalam kitab al-Insyirah Fi Adabin Nikah hlm. 97].

Itulah sederet tata cara beserta dalil aqiqah yang dapat kita ketahui. Semoga bermanfaat dan membantu ya!

Tanggapan

Belum ada

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Konten Terkait

[quads id=1]

Konten Terbaru