Wow! Pangeran MbS Izinkan Natal Secara Terbuka di Arab Saudi

Hani Hnsa 0 Komentar

Pemerintah Arab Saudi di bawah kepemimpinan Putra Mahkota, Pangeran Mohammed bin Salman (MbS) mengizinkan Natal secara terbuka di Arab Saudi.

INDIFFS.COM – Pemerintah Arab Saudi di bawah kepemimpinan Putra Mahkota, Pangeran Mohammed bin Salman (MbS) mengizinkan perayaan Natal secara terbuka di Arab Saudi.

Pangeran MbS memastikan warga Kristen di Saudi tak perlu lagi sembunyi-sembunyi merayakan natal di rumah masing-masing sejak 2020. Para warga yang merayakan Natal pun bersuka cita dengan kebijakan dari Putra Mahkota Saudi tersebut.

Sejak saat itu, perayaan Natal di Saudi dirayakan secara terbuka dengan segala pernak-pernik nya. Toko-toko hingga ruang publik di Jeddah hingga Riyadh penuh dengan pernak-pernik Natal.

Mengutip The National News, saat ini dekorasi kafe dan restoran telah diubah menjadi negeri ajaib musim dingin. Dimana dekorasi dan ornamen bertema natal dan salju yang dipajang.

Tak hanya pajangan, menu nya pun dibuat musiman. Raksasa ritel Starbuck menawarkan minuman liburan musiman dalam cangkir bertema liburan. Sementara, too roti artisanal Prancis Paul Cafe telah menjual kue dan kue berbentuk kayu yule dan bertema Natal.

Salah satu toko, Homegrown, bahkan akan menggelar acara bertema Natal di Arab Saudi. Salah satu warga Hatoon, mengaku senang dengan semarak jelang perayaan Natal di Jeddah, Saudi.

“Ini mengingatkan saya salju dan London. Saya makan roti jahe dengan latte dan teman saya minum cokelat panas dengan s’more (Marshmallow panggang),” ujar Hatoon, mengutip dari the National.

Sebelumnya Riyadh pernah melarang perayaan agama lain selain Islam dilakukan secara terbuka. Tidak hanya ilegal sebelumnya, orang bahkan tidak diperbolehkan mengucapkan selamat Natal kepada orang lain karena melanggar hukum.

Namun, Umat Nasrani di Saudi secara resmi diizinkan merayakan Natal secara terbuka sejak 202, tepatnya tiga tahun usai Mohammed bin Salman (MbS) menjadi Putra Mahkota.

Selama memimpin Saudi, MbS kerap merevisi aturan konservatif dan membuat sejumlah gebrakan sesuai visi 2030. Visi ini merupakan strategi dan misi Riyadh mengurangi ketergantungan terhadap minyak sebagai sumber pemasukan utama.

Tanggapan

Belum ada

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Konten Terkait

Konten Terbaru