Toxic Masculinity? Ciri dan Dampaknya, Ajarkan Anak Sejak Dini!

Resa Azzahra 0 Komentar

Toxic Masculinity ialah suatu tekanan pada pria untuk berperilaku dan bersikap dengan cara tertentu. Berikut penjelasan selengkapnya!

INDIFFS.COMToxic Masculinity adalah suatu tekanan bagi kaum pria untuk berperilaku dan bersikap dengan cara tertentu. Istilah ini dikaitkan dengan nilai-nilai yang dianggap harus ada di dalam diri seorang pria, seperti yang ditunjukkannya ialah kekuatan, kekuasaan dan pantang mengekspresikan emosi. 

Toxic Masculinity (Maskulinitas Beracun) dapat didefinisikan sebagai perilaku sempit terkait peran gender dan sifat laki-laki. Dalam istilah ini, maskulinitas yang lekat sebagai sifat pria identik dengan kekerasan, agresif secara seksual dan tidak boleh menunjukkan emosi yang sudah di jelaskan sebelumnya.

Padahal, seorang pria juga bisa saja memiliki sifat yang lembut atau gentle, ramah maupun sensitf. Tentunya hal ini bukanlah hal yang salah pada pria.

Ciri-Ciri Toxic Masculinity

Dalam konsep ini, emosi cenderung sebagai kelemahan dan kejantanan identik yang dikaitkan dengan kekuatan, ketangguhan atau wibawa. Berikut ciri-ciriny:

  • Tidak menunjukkan emosi sedih dan mengeluh, serta menganggap bahwa pria hanya boleh mengekspresikan keberanian dan amarah.
  • Tidak membutuhkan kehangatan atau kenyamanan.
  • Tidak perlu menerima bantuan dan tidak boleh bergantung pada siapa pun.
  • Harus memiliki kekuasaan dan status sosial yang tinggi agar bisa dihormati oleh orang lain.
  • Berperilaku kasar dan agresif, serta mendominasi orang lain, khususnya wanita.
  • Tendensi untuk bersikap misoginis.
  • Cenderung melakukan aktivitas seksual dengan kasar.
  • Menganggap “keren” kebiasaan yang tidak sehat, seperti merokok, minum minuman beralkohol, bahkan mengonsumsi obat-obatan terlarang.
  • Heteroseksisme dan homofob.
  • Merasa tidak perlu membela hak perempuan dan kaum marjinal lain.
  • Mengagungkan tindakan berisiko, seperti menyetir kendaraan dengan kecepatan tinggi dan mengonsumsi obat terlarang.
  • Enggan untuk melakukan aktivitas yang dianggap hanya milik perempuan, seperti memasak, menyapu rumah, berkebun, dan mengasuh anak.

Sikap Toxic ini sangat berbahaya karena membatasi definisi sifat seorang pria dan mengekang pertumbuhannya dalam bermasyarakat. Oembatasa ini dapat menimbulkan konflik dalam dirinya dan lingkungannya. Maskulinitas Beracun juga memberikan beban pada pria yang dianggap tidak memenuhi standar Maskulinitas Beracun. 

Sikap ini tidak hanya berbahaya bagi kaum pria. Masyarakat, terutama kaum wanita juga bisa menjadi korban perilaku maskulinitas yang beracun di atas. Contohnya seperti, beberapa pria menganggap dirinya superior dan lebih baik dibandingkan perempuan. Sebagian pria juga “diajarkan” untuk melakukan pelecehan dan kekerasan seksual. Anggapan-anggapan di atas tak dipungkiri memicu kekerasan dalam rumah tangga hingga pelecehan seksual dan pemerkosaan.

Bahaya Jika Tidak Dikendalikan

Sikap Toxic Masculinity ini jika tidak dikendalikan dapat menimbulkan beberapa dampak yang perlu diwaspadai, yakni sebagai berikut:

  • Kurang nya persahabatan yang benar-benar tulus.
  • Terjadi nya bunuh diri.
  • Terjadi perundungan atau bullying.
  • Penyalah gunaan obat dan minuman.
  • Kekerasan seksual terhadap perempuan.
  • KDRT terhadap anak dan pasangan.
  • Trauma pada psikologis.

Untuk mencegah hal tersebut, ada beberapa cara untuk menghentikan toxic maskulinitas adalah dengan mengajarkan akan sejak dini, terutama pada anak laki-laki. Berikut caranya:

  1. Berhati-hati dalam memberikan media hiburan pada anak. Apabila Anda mendeteksi elemen toxic masculinity di film atau buku kesukaannya, Anda bisa memberikan intervensi bahwa elemen tersebut tidak patut untuk dicontoh.
  2. Hindari ujaran yang merendahkan perempuan, seperti, “Kamu berbicara seperti perempuan” atau “Jangan berjalan seperti perempuan ya”
  3. Ajari konsep konsensual sejak dini yang sesuai dengan umur Si Kecil. Misalnya, sampaikan bahwa setiap orang memiliki batasan yang tidak bisa sembarangan dilewati. Kamu juga bisa mengajarkan bahwa tubuh setiap orang adalah milik orang tersebut, sehingga ia tak bisa sembarangan menyentuh atau memeluk tanpa izin orang lain.
  4. Tumbuh kan rasa empati pada anak, dengan memahami perasaan dirinya sendiri dan orang lain.
  5. Ajarkan anak nilai kesopanan dan mengajakmua untuk memposisikan dirinya sebagai orang lain. Berikan ia pengertian tentang pentingnya menunjukan kepedulian dan rasa hormat.
  6. Sebisa mungkin hindari perkataan yang terkesan merendahkan perempuan, misalnya “Cara jalanmu seperti perempuan” atau “Jangan berbicara seperti perempuan”. Ini akan membuat anak laki-laki memandang perempuan sebelah mata dan sulit untuk menghargai perempuan.

Demikianlah beberapa ciri-ciri serta dampak dari toxic masculinity. Semoga dapat membantu dan menambah wawasan!

Tanggapan

Belum ada

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Konten Terkait

Konten Terbaru